Selasa, 01 Januari 2013

Mimpi



“Kakak, boleh aku tau apa impianmu ?” Tanya ku di suatu sore yang sejuk.
“Impian ? semacam cita-cita ? Hhmmm, astronot. Yah, rasanya menjadi astronot itu seru, Anna.” Jawab mu yakin.
“Astronot ? kenapa astronot ? kenapa tidak dokter ? apoteker ? atau arsitek gitu ?” Tanya ku lagi.
“Beneran pengen tau ?” Goda mu.
“Aku engga akan maksa.”

 “Aku ingin melihat angkasa dari dekat Anna, melihat indahnya bintang, merasa-kan melayang di bulan, yah begitu-lah.” Kata mu sambil berjalan ke taman kota yang sudah dipenuhi anak-anak ber-lari-an saling mengejar satu sama lain.
“Hanya itu ?” Tanya ku penasaran dan terus mengekor langkahmu.
“Yah, simple sekali bukan ?” Jawab mu lalu duduk di salah satu bangku taman yang masih kosong.
“Terus gimana kalau kita sudah punya mimpi dan sudah me-laku-kan apapun untuk mencapainya tapi masih belum terjuwud ?” Tanyaku polos.

“Mungkin kamu me-lupa-kan satu hal.” Tebak mu sambil menarik ku untuk duduk di sebelahmu.
“Ke-lupa-an sesuatu ? Masa sih ? Apa itu ?”
“Do’a, kamu tidak boleh sampai melupakannya. Apapun yang kamu laku-kan akan percuma kalau kau me-lupa-kan yang satu itu.
Berdoalah kepada Tuhan untuk segala sesuatu yang kamu ingin-kan, Tuhan adalah satu-satunya yang dapat melakukan semuanya. Kita tinggal meng-usaha-kan apa yang kita mampu. Bukan-kah itu sudah hukum alam ?
Jangan pernah berhenti untuk bermimpi, mungkin awalnya akan ada bahkan banyak orang yang akan menertawakan mimpimu, namun lihat-lah pada akhirnya mereka akan menyadari bahwa dulu yang mereka ter-tawa-kan bukan-lah sebuah humor, tapi awal dari ke-sukses-an mu.” Terang mu panjang lebar.

“Iya, semua itu memang benar. Rasanya nyaman sekali ada di mana pun asal bersamamu.” Aku-ku sambil tersenyum. “Maaf jika pertanyaan-pertanyaan konyolku sering membuatmu gerah. Bahkan aku pernah berpikir kalau aku nanya terus kamu mungkin akan melempar ku kemana saja, agar kau bisa sedikit tenang.”

Kau hanya tertawa kecil menyembunyikan ke-geli-an akan kata-kata bodohku.

“Tau nggak ? Aku tidak hanya akan melihat indahnya bintang di angkasa dari dekat, tapi aku juga akan membawakannya untukmu.” Kata mu sambil mengacak-acak poni depanku.
“Ohya ? Yang paling indah yaa.” Pinta ku.
“Iya, nanti akan ku ambil-kan.” Ucapmu sambil mengaitkan jari kelingkingmu dengan jari kelingkingku.
Malam menjelang, taman yang sedari tadi ramai kini sudah mulai sepi, hanya tersisa para pedagang yang masih berjuang menggapai mimpi mereka untuk menjadi lebih sukses (mungkin).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar