Minggu, 21 Juli 2013

Apologize




I’m holding on your rope 
Got me ten feet off the ground

Aku masih ingat pertama kali aku dan kamu bertemu, saat itu aku dan kamu masih sama-sama duduk dibangku sekolah dasar–masih begitu polos.
Hingga kemudian Tuhan mengizinkan aku dan kamu menjadi kita saat beranjak dewasa.

I’m hearin what you say but I just can’t make a sound
You tell me that you need me 
Then you go and cut me down, but wait

Masih kental dalam anganku masa-masa bagaimana aku dan kamu sama-sama berjuang untuk menjadi kita. Pagi itu kamu mengantarku ke sekolah kemudian menjemputku menjelang senja dan aku kadang merengut jika kamu sedikit tak tepat waktu.
Tapi kemudian aku tak bisa berkata-kata lagi jika kamu memasang muka penuh cintamu–sungguh lucu.
Hingga saat itu tiba, kamu membawa pergi hatiku tanpa meminta izin pada pemiliknya kemudian meninggalkan kenangan indah yang kian lama kian memahit.

You tell me that you’re sorry
Didn’t think I’d turn around, and say

Pagi ini aku melangkahkan kakiku dengan gontai menuju perpustakaan kota, tak sengaja lensa mataku menangkap bayangan asing sosokmu berdiri di ujung pintu.
Aku tetap melangkah seolah tak ada dirimu disana, bukankah aku sudah mulai terbiasa tak menatap wajah teduh itu ?
Kamu tersenyum kemudian menarik lenganku, aku juga masih ingat kalimat pertama yang kau ucapkan “Kamu, apa kabar ? masih ingat aku kan ?” Aku masih tetap membisu tetapi hatiku tidak bisu.
Bagaimana aku bisa lupa sedangkan apapun yang ada di dunia ini selalu memaksaku untuk mengingatmu ?
“Maaf, sudah membuatmu lelah menunggu.” Lanjutmu. Masih tidak ada jawaban dari mulutku. “Aku....” kalimat itu menggantung ketika ada seorang wanita memanggilmu kemudian menghampirimu dengan senyum lebar.

It’s too late to apologize, it’s too late
I said it’s too late to apologize, it’s too late

Senja ini kita kembali dipertemukan secara tak sengaja di taman kota tempat kita sering bermain sewaktu kecil, maaf maksudku aku dan kamu bukan kita.
Kali ini aku dan kamu sama-sama seorang diri. Kamu mulai membeberkan berbagai alasan kepergianmu dahulu dan terus mengucapkan kata maaf hingga akupun muak mendengarnya.

I’d take another chance, take a fall 
Take a shot for you
And I need you like a heart needs a beat 
But it’s nothin new

Bukankah kisah itu sudah usang ? kita sudah tiada, sekarang hanya ada aku dan kamu. Aku kamu yang terpisah kata dan, kata penghubung yang justru memberi jarak satu sama lain.
“Mari memulai dari awal.” Kataku.
“Maksud kamu ?” alismu bertaut.
“Mulai dari awal ketika aku dan kamu tidak saling mengenal.” Aku menahan air mataku sekuat tenaga.
“Apa ini berarti kmu menolak permintaan maafku ?”
“Sekarang apa gunanya kata maaf jika pada akhirnya hanya semakin memperparah luka seseorang ?”

I loved you with a fire red
Now it’s turning blue, and you say…
"Sorry" like the angel heaven let me think was you
But I’m afraid…
It’s too late to apologize, it’s too late
I said it’s too late to apologize, it’s too late

“Ini bukan salah dia.....”
“Aku tidak menyalahkan siapapun bahkan keadaan sekalipun, tidak pernah. Aku memang mencintaimu dengan sangat, tapi itu dulu. Aku hanya mencintai dirimu yang dulu berada di sisiku. Jika saat ini kamu datang maka bukan kamu orangnya, karena dia sudah lama mati–dalam hatiku.”
“Maaf.”
“Jangan mengucapkan kata itu lagi atau aku akan membencinya seumur hidupku.”

It’s too late to apologize, it’s too late
I said it’s too late to apologize, it’s too late
It’s too late to apologize
I said it’s too late to apologize

Aku membuka kotak kayu dengan hiasan bunga anggrek yang telah mengering, mengambil sejumlah barang di laci meja belajarku kemudian memasukkannya dalam kotak itu.
Aku melangkahkan kaki menuju kebun belakang rumah, menggali tanah subur di bawah pohon apel kemudian mengubur kotak kayu beserta semua memori masa lalu itu dalam-dalam dan menutupnya dengan tanah seperti semula.

I’m holdin on your rope, got me ten feet off the ground~

Sendirian





Aku muak mencintaimu sendirian.
Tanpa tahu bagaimana keadaanmu.
Apakah hatimu –juga– bergumul ketika aku mengirim pesan singkat padamu?
Apakah duniamu –juga– seolah berhenti saat aku menyapamu?
Apakah nafasmu –juga– tercekat kala aku melintas dihadapanmu?


Aku muak mencintaimu sendirian.
Wanita memang pandai menafsirkan sesuatu,
kami pandai menerka-nerka perasaan seseorang
kemudian menyimpulkannya, tetapi kepadamu aku tidak.
Aku tak bisa mengartikan senyum simpulmu saat kau merengek padaku
untuk menemanimu nonton film yang sudah lama kau tunggu rilisnya.
Aku tak paham maksud pujianmu ketika aku
berhasil meraih sesuatu yang sudah lama ingin kucapai.
Aku tak tahu makna genggaman tanganmu kala aku mulai lelah untuk melangkah.
Seolah otakku lumpuh, tak berfungsi seketika saat bersamamu.


Aku muak mencintaimu sendirian.
Aku tak tahu harus berbuat apa jika nanti tiba-tiba kamu memergokiku
sedang menatapmu yang begitu maharupa dan
seolah tanpa cela sedikitpun–dari kejauhan.
Aku tidak tahu harus berbuat apa jika nanti tiba-tiba kamu
pergi ke tempat yang tidak bisa untuk kujamah.
Aku tidak tahu harus berbuat apa jika nanti tiba-tiba kamu
memintaku untuk menerima kenyataan yang tak sedikitpun aku pernah membayangkannya.


Aku muak mencintaimu sendirian.
Mencari-cari kata yang tepat untuk kuucapkan padamu.
Mencari-cari resep makanan favoritmu.
Mencari-cari persamaan kita yang nantinya menjadi alasan
yang dapat kugunakan untuk berdiskusi denganmu.
Mencari-cari keburukkanmu agar aku bisa membencimu,
tetapi kenyataannya aku tidak menemukan sedikit cela dalam dirimu.
Jika memang kesempurnaan tidak ada di dunia ini, maka kamu seakan mendekati sempurna .


Aku muak mencintaimu sendirian.
Menunggumu online, menunggumu mengirim pesan singkat,
menunggumu memention twitterku, menunggumu lewat depan rumah,
menunggumu bercerita tentang teman-temanmu. Menunggu menunggu menunggu.
Aku benci menunggu bahkan sangat membencinya, tetapi jika itu tentangmu
entah mengapa menjadi begitu menyenangkan.
Maaf, mencintaimu membuatku muak, karena aku–takut–sendirian.