
Aku muak mencintaimu sendirian.
Tanpa tahu bagaimana keadaanmu.
Apakah hatimu –juga– bergumul ketika aku mengirim pesan singkat padamu?
Apakah duniamu –juga– seolah berhenti saat aku menyapamu?
Apakah nafasmu –juga– tercekat kala aku melintas dihadapanmu?
Aku muak mencintaimu sendirian.
Wanita memang pandai menafsirkan sesuatu,
kami pandai menerka-nerka perasaan seseorang
kemudian menyimpulkannya, tetapi kepadamu aku tidak.
Aku tak bisa mengartikan senyum simpulmu saat kau merengek padaku
untuk menemanimu nonton film yang sudah lama kau tunggu rilisnya.
Aku tak paham maksud pujianmu ketika aku
berhasil meraih sesuatu yang sudah lama ingin kucapai.
Aku tak tahu makna genggaman tanganmu kala aku mulai lelah untuk melangkah.
Seolah otakku lumpuh, tak berfungsi seketika saat bersamamu.
Aku muak mencintaimu sendirian.
Aku tak tahu harus berbuat apa jika nanti tiba-tiba kamu memergokiku
sedang menatapmu yang begitu maharupa dan
seolah tanpa cela sedikitpun–dari kejauhan.
Aku tidak tahu harus berbuat apa jika nanti tiba-tiba kamu
pergi ke tempat yang tidak bisa untuk kujamah.
Aku tidak tahu harus berbuat apa jika nanti tiba-tiba kamu
memintaku untuk menerima kenyataan yang tak sedikitpun aku pernah membayangkannya.
Aku muak mencintaimu sendirian.
Mencari-cari kata yang tepat untuk kuucapkan padamu.
Mencari-cari resep makanan favoritmu.
Mencari-cari persamaan kita yang nantinya menjadi alasan
yang dapat kugunakan untuk berdiskusi denganmu.
Mencari-cari keburukkanmu agar aku bisa membencimu,
tetapi kenyataannya aku tidak menemukan sedikit cela dalam dirimu.
Jika memang kesempurnaan tidak ada di dunia ini, maka kamu seakan mendekati sempurna .
Aku muak mencintaimu sendirian.
Menunggumu online, menunggumu mengirim pesan singkat,
menunggumu memention twitterku, menunggumu lewat depan rumah,
menunggumu bercerita tentang teman-temanmu. Menunggu menunggu menunggu.
Aku benci menunggu bahkan sangat membencinya, tetapi jika itu tentangmu
entah mengapa menjadi begitu menyenangkan.
Maaf, mencintaimu membuatku muak, karena aku–takut–sendirian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar